Keamanan Pangan Jadi Perhatian, Kenali Risiko Gangguan Pencernaan Setelah Mengonsumsi Makanan
10 Sep 2026
Ditulis oleh Admin
2x dibaca
10 Sepember 2026 โ Makanan merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Namun, pangan yang tidak diolah, disimpan, atau disajikan dengan baik juga dapat menjadi sumber gangguan kesehatan. Perhatian masyarakat terhadap keamanan pangan kembali meningkat setelah munculnya kasus dugaan keracunan makanan yang melibatkan ratusan siswa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Peristiwa tersebut terjadi setelah para siswa mengonsumsi makanan dalam program Pemerintah yang lalu. Berdasarkan pemberitaan terbaru, Dinas Kesehatan Karo melaporkan hasil pemeriksaan mikrobiologi yang menemukan Bacillus cereus pada sampel nasi, Staphylococcus aureus pada ikan dan muntahan korban, serta E. coli pada melon. Sementara itu, parameter kimia yang diperiksa dilaporkan negatif. Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan pangan bukan hanya mengenai kandungan gizi, tetapi juga bagaimana makanan dipilih, diolah, disimpan, diangkut, dan disajikan. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa pangan yang terkontaminasi dapat menyebabkan berbagai penyakit, dengan gejala yang dapat berkisar dari ringan hingga berat. Kemenkes juga menekankan pentingnya lima kunci keamanan pangan, yaitu menjaga kebersihan, memisahkan pangan mentah dan matang, memasak dengan benar, menggunakan air dan bahan pangan yang aman, serta menjaga makanan pada suhu yang aman.
Gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dapat memiliki berbagai penyebab dan tingkat keparahan. Pada kondisi tertentu, kehilangan cairan akibat muntah dan diare dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Gangguan akibat pangan juga dapat menjadi lebih serius apabila disertai gejala lain atau terjadi pada kelompok rentan. Tidak semua keluhan setelah makan berarti keracunan pangan. Namun, masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan gejala yang berat atau terus memburuk. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila muntah atau diare terjadi berulang dan sulit berhenti atau bila keadaan tidak mampu makan atau minum karena terus-menerus muntah, munculnya tanda dehidrasi, seperti sangat lemas, haus berlebihan, mulut kering, atau buang air kecil berkurang, Demam tinggi atau kondisi tubuh semakin memburuk, Terdapat darah pada muntah atau tinja, Nyeri perut terasa hebat, Terjadi penurunan kesadaran, kejang, atau kelemahan yang tidak biasa. Keluhan terjadi pada bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, atau pasien dengan penyakit kronis.
Jika muncul gejala berat atau kondisi darurat, jangan menunda untuk mendapatkan pertolongan medis. RS Sentosa Siap Membantu Menangani Keluhan Pencernaan. Sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan kesehatan yang profesional dan mengutamakan keselamatan pasien, RS Sentosa Bogor menyediakan layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) serta layanan Spesialis Penyakit Dalam yang dapat membantu melakukan evaluasi terhadap berbagai keluhan kesehatan, termasuk gangguan pada saluran pencernaan. RS Sentosa juga memiliki dokter spesialis penyakit dalam, di antaranya dr. Merianti, Sp.PD; dr. Redy Ferana Hata, Sp.PD; dr. Rosalina, Sp.PD; dr. Hans Wincen Winardi, Sp.PD; dr. Erzamtya Oktowidyani Mindarfah Zahir, Sp.PD; dan dr. Viencensia, Sp.PD, sebagaimana tercantum dalam daftar dokter RS Sentosa. Untuk kondisi yang membutuhkan pertolongan segera, masyarakat dapat memanfaatkan layanan IGD RS Sentosa. Informasi rumah sakit mencantumkan nomor (0251) 754 1900.
Beberapa langkah sederhana yang dapat mencegah gangguan akibat pangan dalam lingkup sederhana contohnya dengan :
1. ๐งผ Jaga kebersihan
Cuci tangan sebelum menyiapkan dan mengonsumsi makanan. Pastikan peralatan, permukaan dapur, dan wadah makanan tetap bersih.
2. ๐ฅฉ Pisahkan makanan mentah dan matang
Jangan menggunakan peralatan yang sama untuk bahan mentah dan makanan yang siap dikonsumsi tanpa dicuci terlebih dahulu. Hal ini membantu mencegah kontaminasi silang.
3. ๐ณ Masak sampai matang
Pastikan makanan, terutama daging, unggas, ikan, telur, dan makanan berisiko lainnya, dimasak dengan benar.
4. โ๏ธ Perhatikan penyimpanan
Makanan yang mudah rusak sebaiknya disimpan pada suhu yang sesuai dan tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Kemenkes menganjurkan menjaga pangan pada suhu aman untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme.
5. ๐ Periksa sebelum dikonsumsi
Perhatikan kondisi makanan, kemasan, tanggal kedaluwarsa, bau, warna, serta perubahan tekstur. Jika makanan terlihat atau tercium tidak normal, lebih baik tidak dikonsumsi.
Komentar Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar
Informasi Terkait
Fitur sidebar lanjutan akan ditambahkan di sini.